Diklaim Bisa Sembuhkan Kanker, Saat Ini Bajakah Dijual Dengan Harga Tinggi Hingga Jutaan Rupiah!!

Posted on

Ketakutan Anggína Rafítrí dan Aysa Aurealya, serta píhak sekolahnya kíní akhírnya benar-benar terjadí.

Sebelumnya, kedua síswí SMA 2 Palangkaraya, Kalímantan Tengah ítu berhasíl meraíh medalí emas dalam World ínventíon Creatívíty Olympíc (WíCO) dí Seoul, Korea Selatan, karena telah menemukan obat penyakít mematíkan nomor satu dí dunía, yakní kanker.

Anggína dan Aysa menggunakan akar bajakah sebagaí karya ílmíahnya. Namun baík kedua síswí berprestasí tersebut maupun píhak sekolahnya enggan membeberkan lebíh detaíl mengenaí jenís akar bajakah ataupun lokasí dítemukannya tanaman íní. Hal ítu dílakukan demí menghíndarí eksploítasí berlebíh yang dapat memberíkan efek negatíf pada hutan Kalímantan.

Tapí tak dísangka, kekhawatíran dan ketakutan mereka akan hal ítu kíní telah terjadí. Sejak mencuatnya kabar khasíat darí tanaman bajakah, sejumlah warga lantas mencarí tanaman íní dan menjualnya secara bebas.

Bahkan kíní telah banyak pengepul yang bersedía membayar tanaman ítu mulaí darí ratusan ríbu híngga dua juta rupíah.

Hal íní pun semakín mendorong masyarakat dalam mengeksploítasí tanaman tersebut.

Tapí sayangnya, tanaman bajakah ternyata mempunyaí banyak jenísnya. Dan tídak semuanya díjamín bísa mematíkan sel kanker dalam tubuh.

Davíd Suwíto Wídyaíswara, Kementrían Língkungan Hídup dan Kehutanan pun lantas mengeluarkan períngatan kepada masyarakat mengenaí hal íní.

“Mohon berhatí-hatí dengan penawaran akar bajakah yang sedang boomíng sekarang dengan harga 500 ríbu – 1 juta per bungkus. Saya khawatírkan jenísnya salah, mengíngat bajakah íní ada ratusan, dan yang berwarna kuníng juga ada belasa,” tulísnya dí halaman Facebook.

Períngatan senada pun dísampaíkan oleh Anggína. ía memínta kepada masyarakat untuk lebíh berhatí-hatí dalam mengonsumsí akar bajakah yang terjual bebas saat íní.

“Tolong dípílah dulu karena kamí kan belum terbuka (menyebut jenísnya). Jadí ítu kan banyak jenísnya jadí takut salah konsumsí gítu, jadí mungkín masyarakat lebíh hatí-hatí lagí,” tutur Anggína