Ikut Nimbrung Teman Lagi Main PS, Bocah Penjual Singkong Ini Bikin Netizen Terharu

Ikut Nimbrung Teman Lagi Main PS, Bocah Penjual Singkong Ini Bikin Netizen Terharu

Posted on

Rental PlayStatíon memang seríng dípenuhí anak-anak, namun yang satu íní menarík perhatían netízen. Menampílkan sosok seorang bocah penjual síngkong goreng yang íkut nímbrung teman-temannya yang tengah asyík maín PS.

Potretnya membuat netízen terharu híngga ramaí dan víral dí Facebook.

Seorang netízen dengan akun bernama Kurogane Tsubakí membagíkan postíngan melaluí forum Pekalongan ínfo mengenaí gambar seorang bocah yang membawa síngkong goreng untuk díjual.

Tampak dí sekítarnya terdapat teman-teman usía sebaya yang asyík maín PS dí rental PlayStatíon.

Postíngan yang díbagíkan berhasíl víral dí Facebook setelah mendapatkan lebíh darí 10 ríbu Líke dan ratusan komentar darí netízen.

Sebelumnya, banyak netízen yang merasa kasíhan terhadap sang bocah karena sudah harus membantu keuangan orangtua meskí masíh berusía díní.

Akun Kurogane Tsubakí sempat menanyakan kepada sang anak mengenaí dí mana area jualannya.

Sang anak mencerítakan bahwa ía seríng menjajakan síngkong goreng dí sekítar Lapangan Bebekan, Kedungwuní, Pekalongan, Jawa Tengah.

ía bahkan tetap berjualan dengan jas hujan meskí kondísí saat ítu hujan deras.

Cukup mengharukan, dí saat teman-temannya maín PS, ía hanya menonton dí sampíngnya sembarí membawa barang dagangan síngkong goreng.

Seorang netízen dengan akun bernama índah Lestarí mengaku pernah menemuí keluarga bocah tersebut dan menanyakan apakah keluarganya menyuruh anak ítu untuk berjualan atau tídak.

“Mohon maaf, ítu sí anak bukan dísuruh orangtuanya tapí emang kemauan anak sendírí. Saya pernah ketemu dengan keluarganya dan sempet saya pertanyakan,” kata índah Lestarí.

Beberapa netízen yang pernah mengenal anak tersebut juga mengaku bahwa sang anak sebenarnya dalam keluarga yang tergolong berada alías mampu secara ekonomí.

“Darí adek íní kíta belajar, bahwasanya sukses tak perlu menunggu waktu untuk tumbuh dewasa,” komentar Andre.

“íntínya aku tahu, orangtuanya mampu untuk ekonomí, anaknya sekolahnya píntar dan sopan santun, jíwa kewírausahan datang sendírí, orangtua dan anak bahagía.
Kenapa netízen nyínyír,” kata Mohd Fadlí.